Sunday, 15 July 2018



-----------------------------------------------------------------------------------
I.          Adakah Jaminan Keselamatan Bagi Orang Islam? (1)
-----------------------------------------------------------------------------------
Ibarat seorang atlit yang berpacu dengan waktu untuk sampai tujuan, demikianlah kehidupan manusia di dunia ini. Kita sedang berpacu dengan waktu, untuk mencapai garis finish kehidupan kita.(2)
Sebagai seorang atlit profesional, tentu mengetahui hal-hal apa saja yang harus persiapkan sebelum mengikuti pertandingan. Misalnya: Berlatih keras, pola makan yang sehat, istirahat yang cukup, dll. Bila semua ini telah dilakukan dengan baik, maka ada “jaminan” si atlit akan pulang membawa piala.(3)
Bagaimana dengan kita, sudahkah kita mempunyai “jaminan” sebagai “pemenang” ketika tiba di garis akhir kita?(4)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
(1)Jaminan keselamatan bagi Orang Islam (Muslim), adalah sangat jelas dan pasti sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an pada ayat berikut :
  
مَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ -

(Qs.3:85)   “Barang Siapa yang mencari bukan Islam sebagai Agamanya, maka tiada diterima daripadanya, dan di hari akhirat, dia termasuk golongan orang-orang yang merugi”.
(whoever desires other than Islam as religion, never will it be accepted from him, and he, in the Hereafter, will be among the losers ).
            Artinya, justru orang-orang yang memilih Agama “bukan-Islam” itulah yang tidak punya jaminan keselamatan di hari penghakiman nanti. Mereka merugi. Ayat tersebut sudah cukup menjadi jawaban atas pernyataan yang sengaja anda kemukakan seolah bertujuan membuat keraguan dan menyudutkan kaum Muslim. Jangan sampai Allah Swt, menutup hati anda sebelum taubat. Jika ajal datang sebelum anda Taubat (dengan menarik judul itu), maka anda dinyatakan kafir dalam menurut Islam. Taubatlah sebelum ajal datang.  
            Sengaja ayat ini diterjemahkan dalam dua bahasa, untuk menunjukkan bahwa terjemahan itu bukanlah ayat aslinya, tetapi hanya terjemahan kedalam bahasa sendiri (Indonesia/Inggris atau lainnya). Nah sekarang kami balik tanya nih, Apakah dalam Kitab suci anda, terdapat ayat dengan susunan kalimat dalam bahasa asalnya, yang memberikan “jaminan keselamatan”, seperti disebutkan pada ayat Qur’an tersebut di atas ?? Ingat !! harus dicantumkan kalimat asli dalam bahasa asalnya. Bukan sekedar dalam terjemahan Bahasa Indonesia, atau Bahasa Inggeris. Terjemahan bisa saja menimbulkan kesalahan, sebagai akibat kemungkinan ketidaksesuaian dengan bahasa aslinya.
(2)Anda membuat paragraf yang dikaitkan dengan waktu, bahwa kita berpacu dengan waktu untuk mencapai garis finish kehidupan kita. Oleh karena itu perlu disampaikan ayat berikut supaya anda ketahui:

- إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ -- إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُواالصَّالِحَاتِ
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّوَتَوَاصَوْابِالصَّبْرِ

(Qs.103:(2-3)   ”Sesungguhnya semua manusia itu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan beramal shalih, serta saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran”.
Ada tiga kriteria disebutkan pada ayat itu secara ringkas, supaya seseorang dapat dikategorikan tidak merugi dalam mengarungi kehidupan dunianya. Salah satunya, yaitu “saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran”.
Di bumi NKRI ini mungkin kelompok anda telah mengamalkan kriteria ketiga ini. Tetapi dua kriteria lainnya yaitu, “beriman” dan “beramal shalih” diyakini belum anda amalkan menurut kriteria Islam. Karena belum ada pembuktian di hadapan Allah Swt., yang disaksikan oleh kaum Muslimin. Apakah anda telah beriman sesuai rukun Iman Islam?? Dilain pihak anda bahkan melakukan HOAX. Jadi anda termasuk kelompok manusia yang merugi. 

(3)Adapun “Ibarat” atau “perumpamaan” yang anda buat tentang Atlit, adalah sangat tidak tepat. Alias tidak pas. Pada kenyataannya tidak semua atlit yang ikut berlomba dapat berhasil membawa pulang piala, karena banyak saingan di sekitarnya.
Sesungguhnya Kegiatan yang dilakukan seorang Atlit hanya bagian kecil dari kehidupan manusia di dunia ini. Janganlah anda membuat “ibarat / perumpamaan” yang konyol seperti ini.

(4)“Pemenang” dalam ajaran Islam adalah orang yang mengarungi kehidupan dunia dengan penuh perjuangan dan tidak menyia-nyiakan waktu.
Mereka beriman kepada Allah, dan atas dasar imannya ia beramal shalih, dan tetap melaksanakan Shalat, BerSedekah, berzakat, sesuai kemampuannya serta giat berusaha melaksanakan rukun Islam lainnya. Mereka adalah orang-orang yang  beruntung. Mereka bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah Swt. Bahwa Allah itu berdiri Sendiri, Ahad, Tidak beranak, tidak diperanakkan, dan tidak ada yang menyerupai DIA. Karena itulah usaha perjuangan hidup mereka akan diberi balasan setimpal. Balasan itu dikenal dengan istilah bahasa Indonesia IJAZAH. Yang kata dasarnya dari bahasa Arab. Jazaa’un. Kalau menggunakan kata hari-hari: PAHALA. (Hal demikian tidaklah sama dengan sekedar “pemenang” dalam lomba atletik).